Cerpen islami

nikenmays.blogspot.com
KESABARANKU MEMBUAHKAN HASIL

Tidak semua orang hidup dengan sangat berkecukupan. Seperti yang dialami seorang gadis SMP yang berumur 14 tahun namanya Talita Putri. Talita hidup bersama keluarganya serba kekurangan, tapi talita dan keluarganya tidak pernah mengeluh akan hal itu. Bagi talita tidak semua orang hidup dengan sangat berkecukupan, termasuk dengan keluarganya. Talita adalah anak sulung, dia mempunyai dua orang adik yang bernama Salsa Putri, adiknya yang pertama sekolah kelas 6 sd yang sebentar lagi juga akan lulus. Sama seperti talita yang tinggal beberapa bulan lagi akan lulus. Sedangkan adiknya yang terakhir bernama Muhammad Fauzi kelas 3 sd. Talita hanya tinggal bersama ibunya dan kedua adiknya. Ibunya bernama Nurlita biasa dipanggil ibu nur, ibunya hanya seorang pembantu dirumah-rumah besar dan ibunya juga suka menjual kue keliling. Talita tinggal dirumah bekas peninggalan Alm. Ayahnya, ayahnya meninggal sejak talita kelas 6 sd. Talita selalu diejek oleh teman-temannya disekolah, teman-temannya bilang bahwa talita tidak pantas sekolah di SMP Negeri karena tidak sederajat. Talita bahkan tidak pernah memperdulikan akan hal itu, buat talita ejekan teman-temannya itu adalah penyemangat buat talita untuk terus bersabar dan mau berusaha agar lebih maju kedepannya. Talita juga tidak pernah malu kalo ibunya hanya seorang pembantu dan penjual kue keliling. Tidak semua teman-temannya mengejek talita. Ada satu teman sekolah talita yang selalu membela talita ketika diejek. Namanya Vera, dia walaupun anak orang kaya tapi dia tidak pernah membeda-bedakan teman. Talita sangat senang jika ada orang yang sangat peduli terhadapnya.
“vera kenapa kamu selalu membelaku, aku ini tidak pantas bergaul dengan kamu” talita pun ngomong langsung ketika berada disamping vera
“tal..buat aku.. semua orang itu sama saja, aku gak suka membeda-bedakan teman. Aku juga selalu diajarkan oleh kedua orang tuaku akan hal itu bahwa kita tidak boleh membeda-bedakan orang apalagi mengejek orang” vera mencoba menjelaskan kepada talita
“kalo kamu mau berteman denganku, aku akan sangat senang sekali ver.. makasih ya” aku pun memeluknya dan berterima kasih
Suatu ketika talita dipanggil oleh kepala sekolah, dan terjadilah sebuah percakapan antara talita dengan kepala sekolahnya
“talita, udah 2 bulan kamu tidak bayar uang SPP. Kamu harus segera melunasinya atau kamu akan dikeluarkan dari sini.”
“baik pak saya akan segera melunasi, tolong beri saya waktu”
“oke saya akan kasih kamu waktu selama 1 minggu, yaudah kamu boleh pergi” kepala sekolah mempersilahkan talita pergi.
Dan setelah pulang sekolah, talita kembali kerumahnya. Didalam rumahnya talita hanya memikirkan bagaimana caranya untuk melunasi uang SPP itu. Talita juga mempunyai seorang adik, pasti adiknya juga butuh uang untuk bayaran uang sekolah. Talita pun berfikir ‘aku harus membantu ibuku, kasihan ibu harus mati-matian cari uang untuk mencukupi kebutuhan keluargaku juga mencari uang untuk biaya sekolahku. Pokoknya aku harus mencari pekerjaan. Dan ketika sore ibunya sudah pulang, talita pun berkumpul diruang tamu.
“ibu aku harus melunasin biaya sekolahku ibu....” fauzi memberitahu kepada ibuku
“iya bu salsa juga harus segera melunasi uang spp” salsa juga ikut memberitahu kepada ibuku
“bu..kayaknya aku harus kerja sampingan buat bantu-bantu ibu deh” talita mencoba meminta izin kepada ibunya
“kamu harus sekolah lita.. lagipula kamu mau kerja apa?” ibu bertanya kepadaku
“apapun pekerjaan nya asalkan tidak berat, aku mau bu. Aku mohon bu... izinkan aku untuk bantu ibu” talita memohon-mohon dan meminta izin kepada ibunya
“kamu bantu ibu jualin kue ibu ya disekolahmu, mau kan?”
“mau bu, aku mau” talita akhirnya menerima permintaan ibunya itu dengan sangat senang.
“salsa..fauzi.. ibu akan segera cari pinjaman ke majikan ibu. Siapa tau beliau bisa bantu ibu” ibuku lalu memelukku dan kedua adikku.
Besoknya aku pergi sekolah sambil membawa keranjang yang berisi kue. Sedangkan adikku salma dan fauzi berangkat menggunakan sepeda. Satu sepeda dibawa oleh salma dan fauzi duduk dibelakangnya. Aku tidak pernah malu terhadap apa yang kulakukan. Roda itu berputar, aku yakin jika sekarang aku berada dibawah pasti suatu saat aku akan berada diatas. Aku akan mengejar cita-citaku menjadi seorang designer dan menjadi seorang pemilik butik.
Ternyata banyak yang menyukai kue ku, teman-temanku bilang katanya kue buatan ibuku sangat enak. Bahkan ada beberapa temanku yang memesan kue buatan ibuku untuk sebuah acara. Aku sangat senang karena pada hari itu kue ku terjual habis. Tidak sia-sia aku membantu ibu menjual kue ke sekolahku ini.
“ciee..kue nya habis terjual. Padahal baru aja aku mau beli kue kamu, eh udah habis” vera agak kecewa
“nih kebetulan aku bawa bekal yang berisi kue buatan ibuku, cobain deh” aku memberikan kue itu ke vera dan kami makan bersama
“hmmm...kamu kok jualan tumben banget?” vera bertanya karena penasaran
“aku harus membantu ibuku untuk mencari uang, semenjak ayahku telah tiada, ibuku bekerja sendirian untuk mencukupi kebutuhan keluargaku. Asal kamu tau vera, aku itu terlahir dari keluarga yang serba kekurangan. Aku juga harus melunasi spp ku, spp kedua adikku. Aku butuh kerjaan vera, apapun itu aku mau bekerja asal tidak berat” talita menjawab dengan lirih
“kamu kan pintar, aku dengar dengar katanya kamu masuk sekolah ini karena beasiswa, bagaimana jika kamu jadi guru les privat aku, sampai aku juga pintar sepertimu talita. Apakah kamu mau?” vera menawarkan agar talita menjadi guru privatnya
“sungguh vera? Kamu tidak bercanda kan? Aku mau banget vera. Kapan kita mulai les? Aku hanya diberi waktu seminggu untuk melunasi spp ku. Kalo tidak aku akan dikeluarin dari sekolah vera”
“mulai hari ini, kamu bisa kan? 2 jam ya kita les nya”
“baik vera, terima kasih sudah mau memberiku pekerjaan” akupun tersenyum kepada vera.
“sama sama talita”
Waktu istirahat masih lama, makananku sudah habis. Lalu aku memulai mendesign sebuah gaun dan baju. Sudah banyak design baju dan gaun buatanku dibuku khusus ku ini. Lagi mendesign baju, ternyata vera memperhatikanku dari tadi.
“wah bagus sekali talita, selain pintar kamu juga berbakat medesign baju dan gaun. Boleh kuliat designan baju dan gaun buatan kamu?”
“tentu saja boleh, nih” akupun memberikan buku itu kepada vera
“teruslah kejar cita-citamu lita. Aku akan terus support kamu. Aku yakin suatu saat kamu akan memiliki toko butik dan teman-teman yang sudah mengejekmu, pasti akan menyesal dan meminta maaf kepadamu”
Mendengar ucapan vera, aku jadi berfikir bahwa aku akan terus berusaha agar cita-citaku tercapai. Semoga suatu saat nanti kesabaranku membuahkan hasil.
Dan setiap hari aku selalu mengajarkan vera les. Hingga tiba waktunya aku harus melunasi spp. Alhamdulillah uangnya sudah terkumpul, dan aku tidak jadi dikeluarkan oleh pihak sekolah. Begitupun dengan kedua adikku, mereka juga sudah melunasi uang spp nya. Ibuku juga tau kalo aku bekerja sebagai guru les privatnya vera, dan ibuku juga tau kalo aku bercita-cita ingin menjadi seorang designer. Sampai suatu ketika ibuku membuka tabungannya dan pergi kepasar untuk membeli bahan-bahan membuat baju dan gaun. Ibuku juga sudah melihat designan baju milikku dan ibuku berjanji akan membantuku membuatkan baju dan gaun yang didesign olehku.
“assalamu’alaikum....ibu pulang” ibu masuk kedalam rumah
“waalaikumsalam ibu udah pulang?” tanya salma pada ibuku
“udah, mana kakakmu?”
“barusan pergi bu sama ka vera mau ngajarin les, ka talita hanya menitipkan buku ini untuk ibu” fauzi memberikan buku itu kepada ibuku.
Ibuku mempunyai mesin jahit sudah lama. Sebelum jadi pembantu, ibuku jadi tukang jahit dan selalu menerima banyak jahitan dirumah.
Lalu ibuku perlahan-lahan membentuk bahan menjadi sebuah gaun designanku. Hanya setengah jam ibu membuat gaun. Dan gaun itu langsung jadi. Tidak lama kemudian aku sudah kembali kerumah, tapi kali ini aku bersama vera. Vera ingin sekali melihat hasil jahitan ibuku.
“assalamu’alaikum, talita pulang”
“waalaikumsalam, kak talita liat deh bajunya sudah jadi. Ayoo kak” kedua adikku menarik-narikku. Dan ternyata benar gaun itu sudah jadi, aku tidak akan menjualnya kepada siapapun. Itu gaun milikku.
“wahh...ibu...sungguh cantik sekali bu..talita sangat suka. Hasil jahitannya bagus, warnanya juga pas”
“wah..hmm.. apakah kamu mau menjual gaun ini talita?” vera bertanya kepadaku
“hmmm...maaf vera tapi aku belum bisa menjualnya. Aku harus bikin lebih banyak lagi. Baru nanti kujual, kamu mau kan membantuku mempromosikan gaunku nantinya?” aku kembali bertanya kepada vera
“oh yaudah gpp kok. Maulah mau banget, kamu tenang aja aku pasti bantuin kamu kok”
“makasih banyak ya vera kamu sudah banyak membantu aku dan keluargaku”
“sama-sama” vera senyum kepadaku
“salsa..fauzi..sini deh..kak vera punya ice cream buat kamu. Oh iya tante nih vera juga bawain makanan” lalu adikku menghampiri vera, ibuku menerima pemberian vera
“makasih kak vera” jawab fauzi dan salsa serentak
“vera kamu tuh ngerepotin banget, makasih ya vera. Yaudah ayo kita makan bareng” ibuku mengucapkan terimakasih kepada vera
“sama-sama tante” vera menjawab
Aku, ibuku, vera dan kedua adikku makan bersama. Kami mengobrol-ngobrol banyak hal mulai dari tentang ejekkan teman-temanku, banyak yang suka kue buatan ibuku, tentang les privat yang aku ajarkan ke vera, tentang cita-citaku, dan tentang gaun itu. Tapi hanya satu jam bersamaku, vera meminta izin untuk pulang karena hari sudah mulai senja. Dan besoknya aku tetap berjualan kue disekolah. Satu kelasku mendapat sebuah tugas menuliskan tentang kehidupan, harapan, dan cita-cita masing-masing. Moment yang sangat pas bagiku, aku akan menunjukan bahwa aku mampu, dan aku bakal bikin satu sekolahanku standing applause kepadaku. Ibuku juga sudah berhasil membuat 4 gaun dan 3 baju muslim hasil designan ku sendiri.
Dan malam itu aku mengerjakan tugas yang diberikan guruku


Dear talita,
Aku tidak akan banyak menceritakan tentang kehidupanku.Namaku talita
putri, aku terlahir dari keluarga yang serba kekurangan. Rumah yang kutempati adalah rumah bekas peninggalan alm.ayahku. Aku tinggal bersama ibu dan kedua adikku. Ibuku hanya seorang pembantu di rumah-rumah besar. Aku tidak pernah malu apapun pekerjaan ibuku. Aku juga tidak pernah mengeluh akan kondisi ku yang serba kekurangan. Kadang aku suka sedih karena kalian semua selalu mengejekku dan mengatakan bahwa aku tidak pantas sekolah disini dan aku tidak sederajat dengan kalian. Tapi aku selalu bersabar, dan aku menjadikan hal itu adalah sebagai penyemangat bagiku. Hanya satu orang yang membelaku ketika aku diejek oleh kaliam yaitu vera. Aku sangat beruntung bisa kenal vera. Ngomongin soal harapan dan cita-citaku. Aku bercita-cita ingin menjadi seorang designer, sedangkan harapanku hanya satu yaitu aku ingin mempunyai butik dan aku akan menjual gaun dan baju-baju yang sudah ku design. Gaun dan baju-baju itu kini telah dibuat oleh ibuku. Aku berhasil membuat 4 gaun dan 3 baju muslim, walaupun untuk pembuatannya aku dibantu oleh ibuku. Dan setelah aku berhasil mewujudkan itu semua, aku berharap kalian semua tidak lagi mengejekku.

Setelah selesai mengerjakan itu, aku  langsung mendesign baju lagi. Besok adalah waktunya aku mengumpulkan tugas dan membacakan ceritaku didepan kelas.
“talita bangun nak.. kamu sekolah kan. Udah jam berapa ini” ibu membangunkanku. Dan akupun langsung loncat menuju kamar mandi. Dan setelah 15 menit kemudian aku berpamitan sama ibuku untuk berangkat kesekolah. Aku juga meminta izin sama ibu buat bawa 1 gaun dan bawa 1 baju muslim soalnya aku mau menunjukkan sesuatu kepada teman-temanku. Dan hari itu juga tiba saatnya giliranku menceritakan apa yang aku tulis. Aku menceritakan dengan sangat jelas dan detail. Aku juga menunjukkan salah satu designan ku yang sudah jadi. Aku melihat beberapa temanku ada yang menangis. Setelah selesai membaca, guruku dan teman-temanku semuanya langsung standing applause. Dugaanku benar, teman-temanku semuanya standing applause kepadaku, tidak hanya tepuk tangan tapi, mereka semua juga meminta maaf karena sudah mengejekku. Aku hanya bilang kepada mereka bahwa aku tidak pernah marah sama mereka semua, aku juga sudah memaafkan mereka semua dari awal. Ada beberapa teman-temanku yang memesan sebuah gaun dan baju muslim. Dan ketika istirahat aku mengobrol dengan vera.
“gila ver, aku bener-bener gak nyangka apa yang terjadi barusan dikelas” aku memulai percakapan.
“tuh kan apa aku bilang, mereka menyesal karena mereka dulu pernah mengejek kamu. Giliran kamu udah bisa buktiin ke mereka , mereka semua baru sadar. Iya kan?”
“yaudah gpp. Aku bersyukur bangetttt.... karena aku punya teman yang sangat peduli seperti kamu vera” akupun memeluknya dengan sangat erat.
“aku juga sangat bersyukur banget ta...” vera menangis dipelukan kita berdua.
Aku juga menceritakan kepada vera bahwa sebentar lagi aku akan buka toko butik. Aku dan ibuku mempunyai tabungan yang sangat cukup untuk membeli sebuah toko. Beberapa minggu kemudian toko butik ku resmi dibuka, tapi baru ada beberapa baju dan gaun yang dipajang didalam butik itu. Nama butikku yaitu Talita’s Butik. Aku juga mengajak vera dan keluarganya mengunjungi butik ku ini.
“selamat ya ta, usaha dan kerja kerasmu selama ini tidak sia-sia” vera mengucapkan selamat atas telah dibukanya butik ku ini.
“iya ver, tidak sia-sia”
Ketika sampai dirumah, aku langsung dipeluk oleh kedua adikku.
“kak..aku seneng banget karena aku mempunyai seorang kakak yang berhasil mewujudkan harapannya” salma memelukku dan dia nangis. Begitupun dengan fauzi, dia juga ikut memelukku. Lalu kami makan bersama, dan setelah makan bersama kami sekeluarga berkumpul di ruang tamu.
“talita.. terima kasih nak kamu sudah membuat ibu bahagia, ibu bangga sama kamu. Dari awal kamu tidak pernah mengeluh akan kondisi kita yang serba kekurangan. Teman-temanmu kini sudah tidak mengejekmu lagi nak. Butik kita semakin hari semakin ramai pengunjung dan banyak yang memesan. Nak fokuslah kamu untuk persiapan UN ya, kan masih banyak designan kamu dibuku yang belum dibikin. Itu biar ibu yang urus, kamu fokuslah perbanyak belajar”
“iya bu, akan kuserahkan semuanya sama ibu”
Dan semenjak saat itu teman-temanku mulai bergaul denganku juga dengan vera, orangtua teman-temanku juga banyak yang mengunjungi butikku dan memesan sebuah baju. Begitupun dengan vera, vera dan orangtuanya ingin memesan sebuah baju keluarga yang sama. Kini keluargaku sudah hidup sangat berkecukupan, rumah aku dan keluargaku juga sudah pindah, rumahku yang sekarang jauh lebih luas dari yang sebelumnya. Ibuku sudah tidak lagi bekerja sebagai pembantu, ibuku kini fokus ke usaha keluargaku yang sekarang. Banyak pengunjung yang mengapresiasi hasil design baju yang kubuat. Aku juga bersyukur karena aku tidak pernah mengelu, tidak pernah putus asa, selalu berdoa dan berusaha. Kini kesabaranku membuahkan hasil. Aku dan keluargaku telah hidup bahagia dengan keadaanku yang sekarang, karena  tidak ada yang tidak mungkin didunia ini.

BY: NIKEN MAYA SOFA
Rabu,02 November 2016


Komentar

  1. Niken aku juga lagi bikin cerpen, mungkin bisa jadi cerpan. hmm tentang *****-******* sih, hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieee... kalo udah jadi kasih tau aku ya la

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar